MENANGGAPI tulisan Sdr. Sunarto Prawirosujanto dalam Tabloid Ekonomi dan Bisnis KONTAN edisi 20 Maret 2006 tentang Manfaat Sayur Organik, ternyata masih banyak yang belum paham mengenai sayur organik ataupun produk-produk pangan organik.

Sayuran, buah, ataupun tanaman organik adalah sayuran ataupun tanaman yang dibudidayakan secara organik. Budi daya tanaman dengan sistem organik akhir-akhir ini memang lagi ngetren. Hal ini karena kesadaran akan khalayak akan arti pentingnya kesehatan.

Kesadaran tersebut timbul karena adanya bukti-bukti nyata di lapangan, timbulnya penyakit-penyakit baru seperti penyempitan pembuluh darah, kolesterol, autis, tumor, kanker, dan sebagainya. Semua penyakit tersebut berasal dari pola makan dan jenis konsumsi makanan yang banyak mengandung bahan-bahan kimia yang berbahaya. Baik kandungan bahan kimia yang mulai melekat melalui pupuk kimia, pestisida kimia yang terakumulasi secara perlahan di dalam tubuh kita, maupun yang berasal dari metode-metode pengolahan makanan yang menggunakan bahan pengawet, pewarna, dan aditif kimia lain. Banyak penelitian secara klinis maupun kondisi lapangan yang menyatakan hal ini.

Yang paling berbahaya di antara bahan-bahan tersebut adalah pengolahan bahan makanan, disusul dengan pestisida kimia, dan berikutnya yang paling ringan adalah pupuk kimia (yang tingkat bahayanya tidak secara langsung nyata).

Dari tulisan Sdr. Sunarto, seolah mudah menyelesaikan bahaya pestisida yang melekat pada sayuran konvensional, yaitu hanya dicuci dengan larutan permanganas kalicus (PK). Padahal, kita tahu, pestisida kimia mempunyai masa degradasi yang sangat panjang, bahkan direbus dan dicuci dengan apa pun sulit terdegradasi hanya dalam waktu sekejap.

Ibarat makanan yang sudah diberi warna, untuk mengubahnya kembali menjadi warna aslinya, apakah semudah itu menetralkan sayuran dan buah yang telah tercemari bahan-bahan kimia? Jika hanya dicuci dengan larutan tertentu sudah terdegradasi, akan mudah sekali memasok sayur dan buah ke Eropa, Jepang, Amerika, dan Singapura. Padahal, produk-produk kita banyak yang dikembalikan pembeli di sana hanya karena masih mengandung residu pestisida dan lain-lain.

Sayuran, buah, dan pangan organik menjadi tren masyarakat yang mulai paham tentang pentingnya sayuran organik. Ini tentunya merupakan perkembangan kesadaran dan pola hidup menuju kemajuan dan kebaikan. Jika orang sudah mulai membutuhkan sayur, buah, maupun pangan organik, sangat wajar jika kini bermunculan warung, restoran, counter-counter yang menyediakan produk-produk organik. Ini peluang baru yang perlu disemangati dan diberi acungan jempol, karena usaha tersebut bisa dikatakan telah ikut andil dalam memikirkan kualitas kesehatan bangsa kita ini.

Berbagai hasil penelitian ahli gizi dan dokter menyatakan, penyebab berbagai penyakit seperti tumor, kanker, itu karena tumbuhnya sel-sel yang tidak terkendali akibat adanya rangsangan bahan-bahan kimia. Makanan yang sehat dan alami merupakan makanan yang disarankan.

Makanan alami ini dihasilkan dari budi daya dengan cara organik, memanfaatkan pupuk maupun pestisida dari bahan-bahan alami. Pupuknya berasal dari kotoran ternak dan sisa-sisa tanaman yang diolah secara benar, dengan fermentasi alami maupun fermentasi menggunakan mikroorganisme terseleksi. Pestisidanya berasal dari tanaman obat-obatan yang juga diolah melalui fermentasi higienis, namun menggunakan prinsip-prinsip alami. Itulah antara lain penerapan budi daya secara organik.Kualitas sayuran organik jelas berbeda dengan yang konvensional. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sayuran organik mempunyai warna lebih cerah, daunnya lebih tebal, namun tidak mudah patah. Buah organik, di samping warnanya lebih cerah, rasanya lebih manis dan segar.

Mengapa harga makanan baik sayuran maupun buah organik lebih mahal? Ini hukum ekonomi demand-supply saja. Jika orang sudah sadar makanan sayuran dan buah organik itu menyehatkan, meskipun mahal, mereka tetap mau membeli. Namun, hal ini terkadang justru dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang menjual produk konvensional namun dituliskan dengan “organik”. Hal ini semua kembali kepada kebersihan hati.

Dr. Ir. Ririen rihandarini,
Sekjen Masyarakat Pertanian Organik

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.