PURWOREJO - Senyum sumringah tampak memancar dari wajah Slamet Supriyadi (44) warga Desa Ringgit, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, saat ia memanen padi organik varietas Sinta Nur di lahan percobaan miliknya, Senin (25/2). Di lahan 800 m2 miliknya, ia melakukan percobaan menanam padi dengan jarak yang berbeda-beda.

Saat memperlakukan tanaman padinya, ia tanpa menggunakan pupuk kimia maupun obat pestisida, namun hanya menggunakan pupuk kandang dan limbah sampah yang ada di lingkungannya.Hasilnya, padinya lebih cerah, kuning, dan lebih berat daripada padi umumnya.Bila dirata-rata, hasil panen padi mencapai 9 ton per hektar.

Hasil ini lebih tinggi dari ratarata padi di Kabupaten Purworejo yang hanya mencapai 6,4 ton per hektar. Apabila dijual pun lumayan, karena untuk padi organik biasanya mencapai Rp 7.000 per kg, sedang untuk padi biasa hanya mencapai Rp 4.500 per kg.

Menurut penuturan Slamet, ia sebenarnya sudah menanam dengan cara organik sejak 1998.Namun waktu itu masih dengan sistem coba-coba. Untuk percobaan kali ini ia menggunakan   System Rice of Intensivication (SRI).

Langkah pertama pengolahan lahan dengan memberi pupuk bahan organik sebanyak 2,5 ton. Satu batang padi anakan berusia sembilan hari ditanam dengan jarak berbeda, ada yang 50×50 cm, 40×40 cm, 30×30 cm, dan 25×25 cm. Setelah 25 hari tanam, diberi pupuk abu dapur sebanyak enam karung. Barulah setelah 27 hari tanam, diberi pupuk ayam sebanyak dua bagor.

Karena lahan milik Slamet merupakan sawah tadah hujan, maka untuk pengairannya dua hari sekali dengan sistem pompa.Hingga padi siap panen, Slamet hanya membutuhkan delapan kali memompa, karena air yang dibutuhkan juga sedikit.

Manfaatkan limbah
Dari data yang ada, semakin pendek jarak tanam semakin banyak menghasilkan rumpun padi karena untuk jarak 50×50 cm jumlah rumpun padi mencapai 25 rumpun, 40×40 cm ada 49 rumpun, 30×30 cm ada 72 rumpun, dan 25×25 cm ada 121 rumpun.

Sedang jumlah anakan produktif, untuk jarak 50×50 cm menghasilkan 56 anakan, 40×40 cm ada 40 anakan, 30×30 cm ada 25 anakan, dan25×25 cm ada 25 anakan.

Hasilnya pun juga lebih banyak dari jaak penananam yang lebih pendek. Untuk jarak 50×50 cm dapat menghasilkan 11,44 ton/ha, 40×40 cm menghasilan 11,84 ton/ha, 30×30 cm mengha-silkan 10,26 ton/ha, dan 25×25 cm menghasilkan 12,29 ton/ha.

“Saya berusaha memanfaatkan pupuk yang ada di sekitar lingkungan rumah, seperti memanfaatkan abu dapur, kotoran ayam dan sapi, sampah-sampah selain kertas dan plastik, dan limbah dapur. Sampah-sampah tersebut dikomposkan dulu, baru setelah siap digunakan sebagai pupuk, ” ujar Slamet.

Menurut Slamet, ia membutuhkan enam kuintal pupuk organik. Di bandingkan dengan pupuk nonorganik, sebenarnya ia hanya membutuhkan tujuh ton.Sedang untuk biaya pengolahan hampir sama yakni Rp 500 ribu.Namun keuntungannya tenaga pengerjaannya bisa dikerjakan dengan sambil lalu.

Ketua DPRD Purworejo Angko Setiyarso Widodo menyambut baik langkah Slamet dalam menanam padi organik. Langkah Slamet bisa dijadikan pilot project penanaman padi organik di wilayah Purworejo.

“Petugas PPL dan Dinas Pertanian bisa membuat perencanaan yang matang. Untuk hasil produksi Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang turut membantu pemasarannya. Kita harus membantu petani baik sebelum penanaman, saat tanam, dan pascapanen.Tujuannya adalah untuk menyejahterakan petani,” ujar Angko.Dulrokhim/ad

wawasadigital.com

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.