JAKARTA — Kondisi krisis pangan di Indonesia tahun ini cukup mengkhawatirkan. Di tengah harga pangan dunia yang melonjak, ancaman terjadinya kekurangan pasokan pun kini menghantui Indonesia.

Pakar ekonomi pertanian dari Institut Pertanian Bogor, Rina Oktaviani, dikutip Radio Netherland, Selasa (25/1/2011), menyatakan bahwa kondisi di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Hal itu karena krisis pangan kali ini disebabkan oleh menurunnya pasokan pangan dunia.

Dia menyebutkan, sebagai dampak perubahan iklim, negara-negara pengekspor makanan pun mengurangi ekspor mereka untuk mengamankan pasokan pangan dalam negeri. “Akibatnya, harga pangan dunia naik. Indonesia masih mengimpor beberapa bahan makanan: beras, kedelai, dan gandum terutama. Jadi, memang situasi ini mengkhawatirkan,” tutur Rina.

Sementara itu, sebelumnya diberitakan pemerintah mengambil kebijakan membebaskan bea masuk 59 komoditas pangan.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan langkah yang diambil pemerintah melakukan penghapusan bea masuk 59 bahan pangan sebagai antisipasi lonjakan harga pangan dunia yang mulai dirasakan di sejumlah belahan bumi.

”Kita sudah lihat apa yang harus kita lakukan, kita harus maksimal antisipasi lonjakan harga luar negeri terhadap harga dalam negeri, makanya kita ambil 59 itu berdasarkan apa yang kita ingin tak terjadi. Ada gandum, ada kedelai, bahan pakan ternak, dan bahan pupuk,” ungkap Mari.

Kalau melihat prediksi badan pangan dan pertanian dunia (FAO) untuk komoditas pangan sudah mengalami kenaikan selevel dengan yang terjadi 2008, kecuali beras. Dia melanjutkan penghapusan bea masuk komoditas pangan biasanya bertujuan untuk menjaga stok pangan cukup di dalam negeri (seperti yang dilakukan 2008), dan meningkatkan olahan. ”Jadi biasanya progresif, mentah lebih tinggi dari yang olahan, yang related dengan komoditas,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, FAO memperingatkan bahwa tahun 2011 ini akan terjadi krisis pangan dunia. Sejak Desember 2010, harga pangan dunia naik tajam, bahkan telah mencapai rekor tertinggi indeks harga pangan FAO. (Srihandriatmo Malau)

sumber : kompas.com

Tags:

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.