Penggantian dilakukan agar petani bisa menanam kembali saat musim tanam tiba.

VIVAnews - Pemerintah akan mengganti biaya pengolahan lahan pertanian yang mengalami puso sebesar Rp2,6 juta per hektare. Pemerintah juga akan mengganti biaya benih dan sebagian biaya tenaga kerja.

Kebijakan pemerintah tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi iklim ekstrem terhadap produksi nasional.

Menteri Pertanian Suswono menyatakan, penggantian dilakukan bagi petani yang mengalami puso atau kerusakan lahan panen di atas 75 persen. “Dengan demikian, kendali dan pengawasan akan dapat dilakukan,” kata Suswono usai rapat koordinasi di Kementerian Perekonomian, Jakarta, Rabu 9 Maret 2011.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan, penggantian tersebut agar petani tetap dapat menanam kembali kendati di tengah cuaca ekstrem. Saat ini, kebijakan itu baru akan dilakukan bagi petani padi.

Hasil lain dalam rapat koordinasi pangan itu, menurut Hatta, adalah komitmen pemerintah menaikkan produksi beras sebesar lima persen. Dalam jangka lima tahun ke depan, pemerintah juga berencana menggenjot produksi beras nasional menjadi 10 juta ton.

“Jumat mendatang diharapkan blue print-nya selesai dan memulai tahap pertama,” tuturnya.

Sebelumnya, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), melansir harga pangan di tingkat global terus bergerak naik dan mencetak rekor tertinggi. Situasi itu bisa menambahkan ketidakstabilan di negara-negara berkembang.

FAO, sebagaimana diberitakan harian The New York Times pada awal Maret 2011, mengungkapkan bahwa indeks harga pangan untuk Februari lalu sebesar 236 poin. Angka ini 2,2 persen lebih besar dari bulan sebelumnya.

Indeks Februari lalu menjadi rekor tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Bahkan, menurut FAO, dalam tiga bulan berturut-turut indeks harga pangan dunia terus mencetak rekor baru. (art)

sumber : www.vivanews.com

Tags:

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.