MADIUN, KOMPAS.com — Petani di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, menilai harga pokok pembelian gabah yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp 2.640 per kilogram gabah kering panen sudah tidak relevan untuk saat ini. Alasannya, harga tersebut tidak mampu menutup biaya produksi petani yang membengkak akibat cuaca ekstrem.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Madiun Suharno meminta pemerintah segera merevisi harga pokok pembelian tersebut. Menurut dia, HPP pemerintah idealnya di atas Rp 3.000 per kg untuk GKP supaya petani dapat menikmati margin atau keuntungan atas jerih payah mereka selama musim tanam.

Manfaat lain, dengan naiknya HPP, Perum Bulog diharapkan memiliki kemampuan untuk menyerap gabah dan beras petani secara maksimal sehingga kebutuhan bahan pangan bagi masyarakat dapat dipenuhi.

Dengan dipenuhinya stok Bulog, pemerintah tidak perlu lagi melakukan impor beras dari luar negeri sehingga harga beras petani tetap stabil.

Suharno mengatakan, dengan harga gabah Rp 2.640 per kg di sawah saat ini, hanya mampu untuk menutup biaya produksi petani dalam kondisi normal. “Persoalannya saat ini usaha pertanian sedang terdampak perubahan cuaca ekstrem sehingga memerlukan biaya tambahan,” katanya.

Biaya tambahan ini di antaranya diperlukan untuk membeli pestisida guna mengatasi serangan hama dan penyakit yang mengganas akibat cuaca ekstrem. Misalnya, serangan hama sundep dan hama keong mas.

Selain itu, petani juga memerlukan tambahan biaya untuk pemupukan dan tenaga kerja penggarap untuk membersihkan gulma yang berkembang pesat pada musim hujan seperti ini.

Sementara itu, luas areal panen di wilayah Madiun dan sekitarnya saat ini mulai habis. Seiring dengan habisnya masa panen itu, harga beras mulai merangkak naik di pasar. Kenaikan terbesar terjadi pada beras dengan kualitas premium. Sedangkan beras biasa, seperti IR-64, yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, harganya relatif stabil di kisaran Rp 5.600-Rp 5.800 per kg.

Kenaikan beras premium berada di kisaran Rp 200 per kg. Sebagai gambaran, beras jenis Menthik yang sebelumnya berada di kisaran Rp 7.400 per kg naik menjadi Rp 7.600 per kg. Adapun beras jenis Bengawan dan Pandanwangi yang sebelumnya dijual Rp 7.600 per kg naik menjadi Rp 7.800 per kg.

Sejumlah pedagang beras di Madiun yang ditemui mengatakan, kenaikan dipicu menipisnya stok beras di petani. Namun, untuk stok beras di perusahaan penggilingan relatif masih banyak.

Oleh karena itu, kenaikan tidak terjadi pada beras kemasan kelas menengah, seperti Rajalele dan Ciherang yang dijual di kisaran Rp 6.300 per kg hingga Rp 6.500 per kg.

Penulis: Runik Sri Astuti

Tags: ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.