BANDA ACEH, — Kemampuan tukar petani subsektor tanaman pangan di Aceh sepanjang April 2011 anjlok 0,68 persen dibandingkan dengan bulan Maret. Hal ini karena nilai hasil pertanian mereka tidak sebanding dengan nilai harga barang yang harus mereka beli. Kondisi ini sangat ironis mengingat sepanjang Maret-April, petani subsektor tanaman pangan, khususnya padi, justru sedang panen.


Kepala Badan Pusat Statistik Aceh Syech Suhaimi, Selasa (3/5/2011), mengungkapkan, pada bulan April, dari lima subsektor pertanian, hanya subsektor tanaman pangan yang mengalami penurunan nilai tukar, yaitu sebesar 0,68 persen. Empat subsektor lainnya mengalami kenaikan, yaitu hortikultura 0,68 persen, perkebunan 1,69 persen, peternakan 0,18 persen, dan perikanan 0,60 persen.

Secara keseluruhan, berdasarkan pemantauan harga-harga pedesaan di beberapa daerah di Aceh bulan April, nilai tukar petani Aceh pun menurun sebesar 0,12 persen dibandingkan dengan bulan Maret, yaitu dari 104,37 menjadi 104,24.

Ini karena indeks yang diterima petani mengalami penurunan lebih besar dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani. “Indeks harga yang diterima petani pada April 2011 turun 0,72 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani hanya menurun 0,61 persen,” kata Suhaimi.

Nilai tukar petani adalah indeks yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. Indeks ini untuk melihat tingkat daya beli petani di pedesaan.

Semakin tinggi nilai tukar petani, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan daya beli petani. Namun, dengan penurunan nilai tukar tersebut, daya beli petani di Aceh pun lebih lemah dibandingkan dengan harga barang.

Ketua Divisi Advokasi Suluh Tani Banda Aceh Yusliadi mengatakan, petani padi di Aceh saat ini menjadi kelompok masyarakat yang paling rawan mengalami kemiskinan. Nilai jual gabah mereka relatif sangat rendah dibandingkan dengan harga jual beras di pasaran.

Harga pembelian pemerintah (HPP) gabah yang hanya sekitar Rp 3.000 per kilogram, menurut dia, hanya cocok diterapkan di Pulau Jawa. DI Aceh, angka tersebut terlalu rendah mengingat harga jual beras di pasaran di provinsi ini mencapai Rp 10.000 per kilogram.

“Petani padi di Aceh sangat merugi. Mereka menjual gabah sangat murah, tetapi harus membeli beras dan kebutuhan hidup lainnya dengan harga sangat tinggi,” katanya.

Hal itu yang membuat daya beli petani di Aceh lemah. Hal ini tecermin dari indeks nilai tukar petani subsektor tanaman pangan yang menurun sepanjang April. Padahal, bulan lalu mereka sedang panen.

Masalah lainnya adalah tata niaga. Beras dari Aceh selama ini dibeli pedagang dari Medan. Dari Medan, beras itu dikemas, lalu dijual lagi ke Aceh dengan harga tinggi. “Tata niaga seperti ini yang harusnya diatur. Kalau tidak, petani yang dikorbankan,” ujarnya.

sumber : kompas.com

Tags:

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.