Proses Pengolahan Lahan

a.    Kondisi lahan sawah kita umumnya sudah miskin bahan organik dan banyak residu pupuk kimia serta pestisida kimia, sehingga lahan miskin unsure hara dan agregatnya sangat kuat. Karena itu perlu dimasukkan bahan-bahan organik minimal sama volume dan bobotnya dengan yang keluar dari sawah (jerami dan padi) atau setara 7-10 ton kompos/ha. Jerami dan sekam harus dimasukkan kembali ke sawah setelah dilakukan fermentasi (pengomposan) terlebih dahulu. Untuk mempercepat proses fermentasi/ pengomposan, jerami ditumpuk berlapis-lapis dan diberikan kotoran hewan (kohen) dan hijauan sekitar seperti ki rinyu dsb serta mikroba (dalam bentuk cairan atau kompos mikroba). Setiap lapisan jerami tebalnya 10-20 cm lalu ditaburi kohe atau mikroba, kemudian disiram hingga basah sebelum ditumpuk lapisan jerami berikutnya. Tumpukan jerami ditutup dengan plastik atau bahan lain agar tidak terlalu basah oleh air hujan atau kekeringan oleh teriknya sinar matahari. Setelah 4 pekan atau lebih, fermentasi jerami selesai menjadi kompos dasar. Ketika petak sawah akan dibajak sebarkan 50% kompos dasar merata ke seluruh petak sawah dan separuhnya lagi disebarkan waktu perataan tanah. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka selain kompos dasar tersebut dierlukan tambahan kompos mikroba yang colume atau beratnya sebanding dengan gabah yang dihasilkan sebelumnya. Genangi petak sawah beberapa hari lalu dibajak dengan kedalaman 30-40 cm. semakin dalam pengolahan lahan semakin baik karena akar padi yang sehat dapat mencapai kedalaman 60 cm. panjang malai padi akan sebandingan dengan kedalaman (panjang akar) padi.

b.    Buatlah parit kecil sekeliling dalam dari petak sawah dan melintang di tengah sawah. Parit ini fungsinya untuk pengendalian air (drainase) dalam petak sawah. Lebar parit 20 cm dan kedalamannya tidak kurang dari 30 cm. untuk mendapatkan sitem aerasi yang baik dan hasil yang optimal, airi petak sawah 2 hari sekali hanya hingga macak-macak agar mikroba dapat berfungsi maksimal karena memperoleh udara yang cukup. Pembuatan parit sebaiknya dilakukan dalam keadaan tanah yang tidak berair dan agak kering agar pembetunkannya mudah serta tidak turun (longsor) lagi.

c.    Setelah permukaan petak sawah rata dan dibuat selokan-selokan, dalam kondisi petak sawah macak-macak , lalu dibuat garutan untuk jarak penanaman bibit padi. Hentikan pemasukan air ke petak sawah, demikian pula hentikan pengeluaran air dari petak sawah. Jika hal ini sulit dilakukan karena geografi lokasi petak sawah atau karena system pengairan berjenjang, lakukanlah usaha sedemikian rupa jingga petak sawah tidak sampai tergenang air karena walaupun butuh air tapi padi bukan tanaman air.

Tags: ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.