Proses Pengendalian Hama & Penyakit

Cara bertani padi secara SRI (System of Rice Intensification) selain untuk meningkatkan produksi padi dengan memanfaatkan bahan-bahan organik yang ramah lingkungan, relatif murah, mudah diperoleh, juga untuk memperbaiki struktur maupun kondisi lahan persawahan secara berkesinambungan. Artinya dengan ber SRI, kita bukan saja dapat mempertahankan tingkat produktifitas padi yang tinggi, tetapi juga meningkatkan struktur dan kondisi lahan sawah serta membaiknya lingkungan hidup biotic di persawahan. Itulah sebabnya, dari data para petani di sumedang, tasikmalaya, sukabumi, dll, melaporkan adanya peningkatan produktifitas bertani padi secara SRI dari musim tanam ke musim tanam berikutnya. Dengan semakin membaiknya sistem lingkungan hidup biotik tadi berarti semakin dapat ditekan resiko kerusakan akibat serangan hama dan penyakit karena setiap hama padi akan muncul musuh alaminya (MA).

Metode SRI yang diterapkan adalah menggunakan bahan-bahan organik seluruhnya dan tidak menganjurkan sama sekali pemakaian pupuk maupun obat-obatan kimia. Pemakaian air yang sangat mninim (50%) daripada cara konvensional akan dapat menekan berkembangbiaknya keong emas karena secara praktis sawah tidak pernah tergenang air, pangkal batang padi tidak pernah terendam air, kondisi sawah hanya lembab dan macak-macak saja. Kalau masih terdapat serangan hama keong emas yang cukup banyak. Itu mengindikasikan masih ada genangan air, itu berarti belum menerapkan SRI sepenuhnya.

Tikus merupakan salah satu hama yang paling sangat dikhawatirkan para petani selama ini karena serangannya sangat cepat dengan jumlah kerusakan yang sangat luas. Batang padi metode SRI relatif lebih besar dan lebih keras sehingga kurang disenangi hama tikus. Hama tikus sebenarnya hanya 9 bulan, setelah itu ia akan mati. Namun setelah usia kurang dari 4 bulan, hama ini sudah dapat berkembangbiak. Itulah sebabnya, hama tikus ini sangat cepat bertambah populasinya. Hama tikus tidak menyukasi bau menyengat seperti bau jengkol dan rasa yang pahit seperti brotowali, sehingga secara mandiri para petani dapat membuat sendiri ramuan pengusir tikus, lalu disemprotkan ke tanaman padi. Cara ini selain sangat murah dan praktis, juga ramah lingkungan karena ramuan tadi tidak membunuh musuh alami dari hama yang lain.

Hama capung dan burung dapat diatasi dengan memperbanyak ajir/tonggak yang dipancangkan di sawah. Sifat hama ini sangat menyenangi sesuatu yang bersifat menjulur/tegak/muncul, untuk bertengger. Pancangkanlah ajir dari bambu atau kayu sebanyak mungkin di sawah untuk menekan kerugian akibat hama ini.

Untuk hama wereng, jika ada indikasi serangan taburkan abu bekas pembakaran terutama pada telur dari hama ini. Dari pengalaman, penaburan abu ini akan lebih efektif pada saat telur wereng telah menetas.

Tags: ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.