Guna mengatasi krisis pangan pada tahun 1990-an, Kuba beralih ke pertanian organik. Upaya ini berhasil menciptakan kemandirian di bidang pertanian.

Sebagaimana dilaporkan situs UNEP Green Economy, setelah Uni Soviet runtuh, negara kepulauan tersebut harus menghadapi embargo berkepanjangan dari Amerika Serikat dan sekutunya, terutama di sektor pertanian.

Para petani Kuba berhasil mengubah kondisi kekurangan pupuk, pestisida dan bahan bakar menjadi peluang emas beralih ke pertanian organik. Usaha ini berhasil memberi manfaat bagi perekonomian, masyarakat, dan lingkungan.

Pemerintah Kuba merespon krisis pangan yang mendera negara tersebut pada September 1993 dengan menghilangkan sistem kepemilikan lahan oleh pemerintah dan mengubahnya menjadi lahan bersama yang dikelola oleh masyarakat.

Lebih dari 80% lahan pertanian yang dulu dimiliki oleh negara kini dikembalikan ke petani dan dikelola oleh perusahaan yang dimiliki oleh petani.

Walaupun petani tidak memiliki lahan secara langsung, mereka diperkenankan mengelola lahan secara gratis dan tanpa batas dengan syarat mereka berhasil memenuhi kuota produksi tanaman-tanaman utama yang sudah ditentukan.

Hasil kelebihan panen sesuai kuota bisa dijual bebas di pasar pertanian, sehingga memberikan pemasukan bagi petani untuk mengadopsi teknologi organik baru dengan memanfaatkan pupuk biologi, kompos, cacing tanah dan melakukan integrasi antara peternakan dengan sistem pertanian.

Petani juga kembali ke teknik-teknik tradisional seperti teknik stek dan pembenihan untuk meningkatkan produksi.

Kebijakan pemerintah juga mendukung pertanian organik melalui “Programa Nacional de Agricultura Urbana” (Program Nasional Pertanian Perkotaan) pada 1994 yang dirancang untuk mendorong para petani di perkotaan memroduksi pangan yang terdiversifikasi, sehat dan segar.

Penduduk Havana mengubah lahan kosong dan halaman yang tidak terpakai menjadi tempat beternak dan lahan pertanian mini. Hasilnya, muncul 350,000 lapangan kerja baru dengan gaji yang cukup (dari jumlah tenaga kerja total sebesar 5 juta jiwa). Sebanyak 4 juta ton buah dan sayuran berhasil diproduksi setiap tahunnya di Havana (naik 10 kali lipat dalam sepuluh tahun) dan kota berpenduduk 2.2 juta jiwa ini telah menjadi kota pertanian yang mandiri.

Selain untuk menjamin keamanan pangan nasional di bawah embargo perdagangan dari Amerika Serikat dan sekutunya, transisi Kuba ke pertanian organik juga telah memberikan manfaat bagi kehidupan penduduk dengan memberikan pendapatan yang stabil bagi sebagian populasi.

Manfaat lain, sistem pertanian yang bebas pestisida akan membawa dampak positif bagi penduduk Kuba dalam jangka panjang. Kehidupan mereka akan lebih sehat karena terbebas dari paparan bahan-bahan kimia yang bisa memicu kanker dan penyakit berbahaya lain.

Sumber : hijauku.com

Tags: ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.