Kota Kopenhagen, Denmark ditasbihkan sebagai Kota Terhijau Eropa 2014 mengalahkan kota Bristol di Inggris dan kota Frankfurt di Jerman. Hal ini terungkap dari siaran pers European Environment Agency minggu lalu (29/6).

Sebanyak empat belas kota bersaing dalam kompetisi yang menghasilkan tiga finalis dengan visi, rencana aksi dan strategi komunikasi terbaik.

Juri menilai ketiga finalis berdasarkan sejumlah kategori yaitu: visi, antusiasme dan komitmen kota secara menyeluruh terhadap lingkungan; kemampuan kota untuk berkomunikasi dengan warganya tentang isu-isu lingkungan; dan yang terakhir, bagaimana kota tersebut bisa menginspirasi kota-kota yang lain yang memiliki situasi yang sama.

Hasilnya, juri memutuskan Kopenhagen sebagai kota yang bisa menjadi contoh ideal bagi perencanaan perkotaan. Pada tahun 2010, 35% dari penduduk kota ini telah bersepeda ke tempat kerja atau ke sekolah.

Jumlah ini ditargetkan naik 50% pada tahun 2015, sebagai bagian dari ambisi kota untuk menciptakan kota yang bebas emisi CO2 pada tahun 2025. Upaya lain yang ditempuh untuk mengurangi emisi adalah dengan memakai lebih banyak energi terbarukan bagi sistem pemanas perkotaan.

Perencanaan yang dilandasi oleh kesadaran lingkungan terbukti membawa banyak manfaat kesehatan. Kopenhagen kini memiliki kebijakan yang menargetkan penduduk bisa pergi ke taman atau pantai dengan berjalan kaki dalam waktu kurang dari 15 menit.

Sejalan dengan kebijakan ini, pemerintah kota Kopenhagen juga tengah membangun taman-taman baru di lokasi yang belum memiliki ruang hijau.

Ibu kota dari Denmark ini juga telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan ramah lingkungan, universitas dan berbagai organisasi untuk memacu terciptanya inovasi dan lapangan kerja ramah lingkungan. Dan keberhasilan Kopenhagen untuk mengomunikasikan kebijakan ini menurut juri berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat untuk beralih ke gaya hidup yang ramah alam.

Frankfurt, yang masuk tiga besar dalam kompetisi ini menurut juri juga berhasil menciptakan perubahan yang signifikan dalam mengurangi konsumsi air dan listrik – jauh di atas rata-rata nasional.

Kebijakan efisiensi energi di Frankfurt mengharuskan semua bangunan baru memenuhi standar penggunaan energi yang ketat. Frankfurt telah melarang pemakaian kayu tropis sejak tahun 1999. Penggunaan PVC juga telah dilarang.

Sementara di Bristol di Inggris, pemerintah memiliki target ambisius guna memangkas emisi CO2, jauh di atas target Uni Eropa dan target nasional. Kota ini berupaya memangkas emisi hingga 40% pada 2020 dan 80% pada tahun 2050 dibanding level tahun 2005.

Kebijakan lain yang layak dipuji adalah peraturan terkait polusi udara dan suara: Bristol memiliki sistem pemantauan kualitas udara paling canggih di Inggris dan berencana mengelola sistem transportasi guna meningkatkan kualitas lingkungan.

Juri juga mencatat upaya kota ini untuk selalu melibatkan penduduk melalui kegiatan relawan, petisi elektronik (e-petitions), diskusi online dan kolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat.
Sekitar 75% penduduk Eropa tinggal di perkotaan. Padatnya penduduk di perkotaan ini berdampak langsung terhadap lingkungan. Namun semua finalis dalam kompetisi ini telah menunjukkan bahwa kota bisa menjadi ujung tombak perubahan menuju praktik pembangunan dan gaya hidup yang ramah lingkungan.

Sumber : www.hijauku.com

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.